Selasa, 12 April 2016

KESALAH ISTRI PADA SUAMI

istri shalihah


 HINDARI 11  KESALAHAN PADA  ISTRI


Saudariku, sebagian wanita mengabaikan beberapa kesalahan yang dapat menggoncang keharmonisan rumah tangga. Berikut ini kesalahan-kesalahan yang perlu kita hindari sebagai seorang istri agar bahtera rumah tangga senantiasa utuh dan kecintaan suami senantiasa bersemi.
1. Menceritakan kecantikan wanita lain kepada suami
Saudariku, sadarilah bahwa termasuk kesalahan ketika seorang istri menceritakan dan menggambarkan kecantikan wanita lain kepada suaminya. Tindakan ini seperti mengasah pisau yang sewaktu-waktu dapat melukai diri sendiri.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Janganlah seorang wanita bermubasyarah (bergaul akrab) dengan wanita lain kemudian dia menggambarkan keadaan wanita itu kepada suaminya seakan-akan suaminya melihat langsung wanita itu.” (HR Bukhari).
Hikmah di balik larangan ini adalah untuk menghindarkan suami agar tidak tergoda atau tergiur oleh wanita yang digambarkan istrinya, yang dapat mengakibatkan suami tersebut menceraikan istrinya. Oleh karena itu, sebagai istri yang cerdas, sudah selayaknya kita mengambil pelajaran dari larangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam tersebut.
Sesungguhnya banyak kejadian nyata tentang suami-suami yang menceraikan istri-istrinya disebabkan oleh ulah istrinya sendiri yang suka menggambarkan kecantikan wanita lain kepada suaminya dengan gambaran yang detail.
Saudariku, sesungguhnya penggambaran itu sendiri sudah diharamkan meskipun tidak mendatangkan musibah seperti di atas. Bukankah seorang muslimah diwajibkan untuk berhijab agar auratnya tidak terlihat oleh laki-laki yang bukan mahramnya? Lalu apa jadinya jika kita menggambarkan keadaan seorang wanita kepada suami kita? Bukankah itu sama artinya kita menyibak hijabnya dan menelanjanginya? Semoga kita berhati-hati dalam masalah ini agar tidak terjebak pada musibah dan dimurkai Allah.
2. Berhias tidak pada tempatnya
Saudariku, percayakah engaku bahwa wanita adalah perhiasan? Tanpa polesan dan hiasan sekalipun, seorang wanita adalah perhiasan yang menawan. Lalu apa jadinya jika perhiasan itu diperindah dan dipercantik dengan pakaian dan polesan? Tentu saja ia akan semakin mempesona dan menggoda.
Tentu saja bukan hal yang salah ketika seorang wanita berdandan cantik dan mengenakan pakaian yang indah karena dengannya ia terlihat semakin sempurna. Hanya saja, yang sering terjadi adalah tindakan yang salah dalam menempatkan diri. Berapa banyak kita jumpai wanita yang begitu memperhatikan penampilan dan dandanan ketika keluar rumah, tetapi mengabaikan semua itu saat di rumah, saat di depan suaminya. Seakan-akan wanita ini tidak mempunyai rasa hormat dan peduli kepada suaminya. Suami yang punya rasa cemburu tentu tidak akan rela diperlakukan seperti ini.
Saudariku, sadarilah bahwa tindakan seperti ini merupakan kesalahan yang fatal. Hal ini dapat membuka pintu fitnah di mana suami melakukan selingkuh, istri digoda lelaki lain, hingga terjadinya perceraian. Semoga kesalahan fatal seperti ini tidak terjadi pada dirimu, saudariku. Suamimulah yang paling berhak untuk menikmati penampilan tercantikmu, jadi jangan abaikan dia.
3. Sambutan yang tidak tepat ketika suami tiba di rumah
Saudariku, kesalahan yang dilakukan oleh sebagian besar istri adalah ketika suaminya baru tiba di rumah dan belum juga menguap rasa penatnya, sudah disuguhi dengan berbagai persoalan dan kebutuhan rumah tangga. Tagihan listrik yang belum dibayar, pusingnya mengurusi anak-anak, uang belanja yang menipis, dan sebagainya. Bisa jadi suami menanggapi suguhan tidak menyenangkan itu, tapi jika sering dilakukan maka dapat menimbulkan rasa bosan dan jenuh. Karenanya, sebagai istri yang pintar, engkau tentu akan menunda semua itu dan menunggu waktu yang tepat untuk mengutarakannya.
4. Memasukkan seseorang yang tidak disukai suami ke dalam rumah
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Dan sesungguhnya kalian (wahai para suami) mempunyai hak atas mereka (para isteri) yaitu hendaknya mereka tidak memasukkan ke rumah kalian seseorang yang tidak kalian sukai, maka jika mereka melakukan hal itu maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Dan mereka juga punya hak atas kalian yaitu menafkahi mereka dan memberikan mereka pakaian secara ma’ruf.” (HR Muslim, Ibnu Majah, An-Nasa’i, Abu Dawud, dll)
Saudariku, perhatikanlah hal ini. Berapa banyak istri yang mengabaikannya sehingga timbullah kerusakan di dalam rumah tangga. Seorang suami adalah imam yang wajib ditaati perintahnya selama tidak keluar dari syariat. Suami berhak melarang istrinya memasukkan orang-orang tertentu ke dalam rumah dan larangan ini wajib ditaati, meskipun saat itu suaminya sedang tidak berada di rumah dan tidak mengetahui hal itu.
Larangan tersebut tidak terbatas hanya untuk laki-laki yang tidak ada hubungan kerabat dengan istri, tetapi larangan dalam hadist tersebut juga mencakup larangan memasukan kerabat atau teman-teman wanita yang tidak disukai suami. Hal ini didasarkan kepada kemungkinan orang yang tidak disukai suami masuk ke dalam rumah dan bermaksud merusak hubungan suami istri tersebut. Orang itu dapat menghembuskan fitnah yang memancing kemarahan atau kecurigaan istri kepada suaminya sehingga terjadilah malapelaka.
5. Meninggalkan rumah tanpa izin suami
Hal yang dianggap ringan oleh sebagian wanita adalah meninggalkan rumah tanpa izin suami. Mereka menganggap tindakan ini sebagai sesuatu yang wajar, sepele, dan biasa saja. Padahal agama yang mulia ini melarang keras tindakan tersebut.
Ibnu Taimiyah berkata, “Tidak halal bagi seorang wanita keluar rumah tanpa izin suaminya. Jika ia keluar rumah tanpa izin suaminya, berarti ia telah berbuat durhaka, bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta layak mendapat hukuman.”
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tidak halal bagi seorang wanita untuk berada di rumah suaminya sedangkan suaminya tidak suka (ridha) dan janganlah ia keluar rumah dalam keadaan suaminya tidak ridha. Janganlah mentaati seorang pun di rumah suaminya (selain suaminya), janganlah ia menjadikan suaminya gusar, janganlah ia menjauhi ranjang suaminya dan janganlah ia merugikan suaminya walaupun ia (suaminya) lebih dhalim darinya (wanita) sampai (si istri) mencari keridhaan suami. Maka jika suami ridha dan menerimanya, maka itu suatu kenikmatan baginya (wanita). Allah akan menerima udzur-udzurnya dan akan berserilah wajahnya dan ia tidak berdosa, tapi jika suami menolak untuk ridha kepadanya maka sungguh ia telah menyampaikan udzur-udzurnya.” (HR Baihaqi)
Saudariku, sebagai wanita muslimah, kita perlu berhati-hati dalam setiap tindakan agar tidak menyebabkan kemurkaan Allah. Perlu engkau ketahui bahwa meninggalkan rumah bukanlah hal yang tepat untuk mengatasi persoalan. Justru persoalan yang sudah ada akan berkembang menjadi lebih rumit.
Meninggalkan rumah tanpa seizin suami berarti mengabaikan hak-hak suami untuk dilayani di rumah. Tindakan seperti ini hanya memperkeruh suasana dan merusak keharmonisan rumah tangga. Sebagian wanita berpikir bahwa meninggalkan rumah dapat menjadi solusi bagi persoalan rumah tangga, menarik simpati suami, menunjukkan eksistensi diri di depan suami. Sungguh, ini perbuatan tercela yang dilarang Allah. Suami pun akan merasa tidak dihargai dan merasa dilecehkan.
6. Menunda-nunda perintah suami
Salah satu peran istri dalam rumah tangga adalah melayani suami. Oleh karena itu, wajar jika suami minta ini itu kepada istrinya. Tapi tak jarang, istri enggan menuruti permintaan suami atau sengaja menundanya. Misalnya suami minta dibuatkan kopi, dibuatkan ketikan, diambilkan alat tulis, semuanya terkesan sepele. Akan tetapi, jika istri menyepelekan pemintaan suami dan hal itu menjadi kebiasaan, maka akan timbul kekesalan di hati suami. Suami merasa tidak dihargai dan diremehkan.
Saudariku, sadarilah bahwa kewajibanmu adalah menaati semua perintah suami sekalipun di matamu itu hal yang sepele, selama perintah itu tidak keluar dari jalur syari’at. Pahamilah hal ini dan jangan menganggapnya sebagai hal yang bisa diabaikan. Jika engkau bisa bersegera memenuhi panggilan dan melaksanakan perintahnya, jangan terpikir untuk menunda-nunda. Jadilah istri yang menyenangkan hati suami.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sebaik-baik isteri ialah yang dapat menyenangkan hati suaminya apabila engkau (suami) melihatnya dan apabila disuruh dia menurut perintahmu, dan dia dapat menjaga kehormatan dirinya dan hartamu ketika engkau tiada di rumah. ” (Riwayat Thabrani)
7. Bersahabat akrab dengan orang yang tidak disukai suami
Saudariku, adakalanya suami kita tidak menyukai orang-orang tertentu di sekitar kita. Tentu saja rasa tidak sukanya itu mempunyai alasan. Bisa jadi suami melihat ada akhlak dari orang tersebut yang tidak baik atau kedekatan dengan orang tersebut dapat menimbulkan lebih banyak madharat daripada kebaikan.
Sebagai seoraang istri, kita perlu peka terhadap hal ini dan tidak mengabaikannya. Jangan sampai kita bersahabat akrab dengan seseorang sementara orang itu tidak disukai suami. Pengabaian seperti ini dapat merusak keharmonisan rumah tangga. Bisa jadi orang yang tidak disukai suami tersebut mencari-cari aib rumah tangga yang sudah disimpan rapat, kemudian ia sebarluaskan kepada orang lain. Atau juga kehadirannya bisa memberi pengaruh buruk pada akhlak seorang istri sehingga ia berani menentang suaminya.
Pernah terjadi dalam sebuah rumah tangga yang mana istrinya bersahabat baik dengan seorang wanita yang tidak disukai suaminya. Beberapa kali sang suami mengingatkan istrinya agar menjauhi wanita tersebut. Akan tetapi sang istri tidak juga melakukannya. Hasilnya, beberapa kali rahasia rumah tangga mereka terkuak keluar dan bahkan sempat terjadi perseteruan antara suami dan istri tersebut akibat ulah wanita sahabatnya. Sang istri akhirnya menyadari kesalahannya dan membuat jarak dengan wanita sahabatnya itu. Alhamdulillah belum terlambat, sepasang suami istri ini terhindar dari malapelata yang lebih besar dan kehidupan rumah tangga mereka semakin harmonis setelah sang istri menuruti peringatan suaminya.
8. Senang membicarakan kejelekan orang lain
Sudah menjadi fitrahnya seorang wanita lebih banyak berbicara daripada laki-laki. Dan salah satu kelemahan orang yang banyak bicara adalah mudah tergelincir dalam kesalahan akibat pembicaraannya. Oleh karena itu saudariku, kita perlu berhati-hati menjaga gerak lidah yang tidak bertulang ini. Bagaimana pun juga, lidah yang kecil ini dapat membawa bencana jika tidak dijaga dengan baik.
Allah berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ
“Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka(yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita(mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) ….” (QS Al-Hujurat [49]: 11)
Allah telah memperingatkan kita agar tidak mengolok-olok atau menjelekkan orang lain. Dan pada ayat di atas, setelah disebutkan janganlah suatu kaum mengolok-olok, masih diulang lagi penyebutan jangan pula wanita-wanita(mengolok-olok). Ini menunjukkan betapa wanita berpeluang lebih besar untuk membicarakan kejelekan orang lain. Bahkan sering kita jumpai beberapa wanita duduk berkumpul dan terlihat asyik, ternyata mereka sedang menggunjing, sedang dalam majelis ghibah.
Terkadang seorang istri membicarakan kejelekan orang lain dengan maksud untuk menarik perhatian suaminya, menjadikan hal itu bahan pembicaraan agar suaminya bisa diajak ngobrol. Akan tetapi, ketahuilah bahwa suami tidak menyukai hal itu. Baginya, hal seperti itu hanya membuang waktu dan tidak membei manfaat sedikitpun. Kebiasaan membicarakan kejelekan orang di depan suami bisa jadi malah membuat suami mempertanyakan akhlak kita sebagai istrinya.
9. Membandingkan suami dengan lelaki lain
Siapapun orangnya, tentu tidak akan suka dibanding-bandingkan dengan orang lain. Begitu juga seorang suami, dia tidak akan senang dibandingkan dengan suami orang. Hal ini hanya akan menumbuhkan kebencian dan rasa curiga suami kepada istrinya.
Barangkali sebagian wanita membandingkan suaminya dengan orang lain dengan maksud untuk memotivasi. Namun hal ini tidaklah akan mencapai hasil yang diinginkan, justru yang terjadi adalah kerusakan. Sebagai misal seorang istri berkata kepada suaminya, “Itu Pak Fulan, orangnya terlihat gesit, supel, aktivitas sosialnya bagus. Penampilannya juga selalu rapi dan bersih.” Mungkin si istri bermaksud memotivasi suaminya agar berperan lebih baik. Akan tetapi, yang ditangkap oleh suami seringnya justru berbeda. Suami akan tersinggung dan merasa dilecehkan karena dibandingkan dengan laki-laki lain. Selain itu, hal ini juga dapat memicu kecurigaan suami bahwa istrinya ternyata memperhatikan laki-laki secara detail. Keadaan seperti ini dapat menjadi gerbang kehancuran bahtera rumah tangga.
Oleh karena itu saudariku, ketika muncul rasa kagum kepada laki-laki lain, jangan buka hal itu kepada suami. Disimpan di hati pun jangan. Segera buang jauh-jauh dan perhatikan segala kebaikan suami sehingga engkau akan menemukan bahwa dialah orang yang paling tepat menjadi pendampingmu.
10. Banyak bicara
Banyak bicara merupakan sikap yang berlebihan dan ini sering kita jumpai pada kebanyakan wanita. Banyak bicara menyebabkan pelakunya lebih mudah tergelincir daripada tidak. Dalam hal ini, Allah dan Rasul-Nya tela mengingatkan kita untuk menjaga lisan agar tidak jatuh pada ketergelinciran. Allah berfirman,
مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS Qaaf [50]: 18)
Di dalam kitab tafsirnya, Ibnu Katsir menuliskan, “Disebutkan bahwa Imam Ahmad mengeluh ketika sakit. Kemudian ia mendengar Thawus berkata, Malaikat mencatat segala sesuatu hingga suara keluhan. Imam Ahmad pun tidak pernah mengeluh lagi hingga meninggal dunia, semoga Allah merahmatinya.”
Sebagian ulama juga berkata, “Jikalau seandainya kalian yang membelikan kertas untuk malaikat yang mencatat amalan, sesungguhnya kalian akan memilih lebih banyak diam daripada banyak bicara.”
Allah juga berfirman,
مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” (QS An-Nisaa’ [4]: 114)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pun bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berkata yang baik atau diam.” (HR Bukhari dan Muslim)
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku di akhirat nanti adalah orang yang paling jelek akhlaknya, orang yang banyak bicara, orang yang berbicara dengan mulut yang dibuat-buat dan orang yang sombong…” (Shahih al-Jami’ash-Shaghir)
Abu Darda’ berkata, “Lebih berlaku adillah terhadap telingamu daripada lidahmu! Karena tidaklah diciptakan telinga itu dua kecuali agar kamu lebih banyak mendengar daripada berbicara.” (Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, Ahmad bin Qudamah al-Maqdisi)
Saudariku, berbagai dalil dan perkataan para ulama di atas sudah seharusnya menyadarkan kita betapa bahayanya lisan. Sebagai seorang istri, terlalu banyak bicara dapat membuat suasana hati suami menjadi keruh. Selain itu, banyak bicara dapat membuat lidah kita tergelincir dari membuka aib rumah tangga, menggunjing orang, dan hal-hal tercela lainnya.
11. Suka menggerutu dan berkeluh kesah
Saudariku, tahukah engkau bahwa seorang laki-laki paling benci kepada wanita yang suka menggerutu dan mengeluh tentang hal yang terlihat sepele? Mempunyai tetangga yang menyebalkan, anak rewel dan susah disuruh makan, kemahalan belanja di tukang sayur keliling, baju kesayangan yang terpaksa sobek karena kecantol paku, dan sebagainya, semuanya seakan antre ingin dikeluhan kepada suami. Seperti nyamuk yang terbang kian kemari, suaranya seperti kepak sayap nyamuk yang tidak mengenakkan telinga. Padahal segala yang dikeluhkan itu tidak untuk mencari jalan keluar, hanya sekedar menumpahkan kekesalan hati yang dibuat sendiri.
Saudariku, percayalah bahwa mengeluh dan menggerutu setiap hari kepada suami tidak akan membuatnya terkesan dan menaruh simpati. Apalagi jika engkau mengeluh pada saat yang tidak tepat, di mana suami sedang lelah sepulang kerja, banyak tugas menumpuk. Hal ini justru dapat membuat suami enggan berlama-lama di dekatmu.

https://ummisanti/hindari-11-kesalahan-sebagai-istri/

Mereka Memusuhi Wahabi Demi Penguasa Pro Penjajah

Buya Hamka: Mereka Memusuhi Wahabi Demi Penguasa Pro Penjajah

Selasa 14 Jamadilawal 1434 / 26 Maret 2013 08:14


Oleh: Zulkarnain Khidir
Belakangan ketika isu terorisme kian dihujamkan di jantung pergerakan Ummat Islam agar iklim pergerakan dakwah terkapar lemah tak berdaya. Nama Wahabi menjadi salah satu faham yang disorot dan kian menjadi bulan-bulanan aksi “tunjuk hidung,” bahkan hal itu dilakukan oleh kalangan ustadz dan kiyai yang berasal dari tubuh Ummat Islam itu sendiri.
Beberapa buku propaganda pun diterbitkan untuk menghantam pergerakan yang dituding Wahabi, di antaranya buku hitam berjudul “Sejarah Berdarah Sekte Salafi-Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama.” Bertubi-tubi, berbagai tudingan dialamatkan oleh alumnus dari Universitas di Bawah Naungan Kerajaan Ibnu Saud yang berhaluan Wahabi, yaitu Prof. Dr. Said Siradj, MA. Tak mau kalah, para kiyai dari pelosok pun ikut-ikutan menghujat siapapun yang dituding Wahabi. Kasus terakhir adalah statement dari kiyai Muhammad Bukhori Maulana dalam tabligh akbar FOSWAN di Bekasi baru-baru ini turut pula menyerang Wahabi dengan tudingan miring. Benarkah tudingan tersebut?
Menarik memang menyaksikan fenomena tersebut. Gelagat pembunuhan karakter terhadap dakwah atau personal pengikut Wahabi ini bukan hal baru, melainkan telah lama terjadi. Hal ini bahkan telah diurai dengan lengkap oleh ulama pejuang dan mantan ketua MUI yang paling karismatik, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang biasa disapa Buya HAMKA. Siapa tak mengenal Buya HAMKA? Kegigihan, keteguhan dan independensinya sebagai seorang ulama tidak perlu diragukan lagi tentunya.
Dalam buku “Dari Perbendaharaan Lama,” Buya HAMKA dengan gamblang beliau merinci berbagai fitnah terhadap Wahabi di Indonesia sejatinya telah berlangsung berkali-kali. Sejak Masa Penjajahan hingga beberapa kali Pemilihan Umum yang diselenggarakan pada era Orde Lama, Wahabi seringkali menjadi objek perjuangan yang ditikam fitnah dan diupayakan penghapusan atas eksistensinya. Mari kita cermati apa yang pernah diungkap Buya Hamka dalam buku tersebut:
“Seketika terjadi Pemilihan Umum , orang telah menyebut-nyebut kembali yang baru lalu, untuk alat kampanye, nama “Wahabi.” Ada yang mengatakan bahwa Masyumi itu adalah Wahabi, sebab itu jangan pilih orang Masyumi. Pihak komunis pernah turut-turut pula menyebut-nyebut Wahabi dan mengatakan bahwa Wahabi itu dahulu telah datang ke Sumatera. Dan orang-orang Sumatera yang memperjuangkan Islam di tanah Jawa ini adalah dari keturunan kaum Wahabi.
Memang sejak abad kedelapan belas, sejak gerakan Wahabi timbul di pusat  tanah Arab, nama Wahabi itu telah menggegerkan dunia. Kerajaan Turki yang sedang berkuasa, takut kepada Wahabi. Karena Wahabi adalah, permulaan kebangkitan bangsa Arab, sesudah jatuh pamornya, karena serangan bangsa Mongol dan Tartar ke Baghdad. Dan Wahabi pun ditakuti oleh bangsa-bangsa penjajah, karena apabila dia masuk ke suatu negeri, dia akan mengembangkan mata penduduknya menentang penjajahan. Sebab faham Wahabi ialah meneguhkan kembali ajaran Tauhid yang murni, menghapuskan segala sesuatu yang akan membawa kepada syirik. Sebab itu timbullah perasaan tidak ada tempat takut melainkan Allah. Wahabi adalah menentang keras kepada Jumud, yaitu memahamkan agama dengan membeku. Orang harus kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Ajaran ini telah timbul bersamaan dengan timbulnya kebangkitan revolusi Prancis di Eropa. Dan pada masa itu juga “infiltrasi” dari gerakan ini telah masuk ke tanah Jawa. Pada tahun 1788 di zaman pemerintahan Paku Buwono IV, yang lebih terkenal dengan gelaran “Sunan Bagus,” beberapa orang penganut faham Wahabi telah datang ke tanah Jawa dan menyiarkan ajarannya di negeri ini. Bukan saja mereka itu masuk ke Solo dan Yogya, tetapi mereka pun meneruskan juga penyiaran fahamnya di Cirebon, Bantam dan Madura. Mereka mendapat sambutan baik, sebab terang anti penjajahan.
Sunan Bagus sendiri pun tertarik dengan ajaran kaum Wahabi. Pemerintah Belanda mendesak agar orang-orang Wahabi itu diserahkan kepadanya.Pemerintah Belanda cukup tahu, apakah akibatnya bagi penjajahannya, jika faham Wahabi ini dikenal oleh rakyat.
Padahal ketika itu perjuangan memperkokoh penjajahan belum lagi selesai. Mulanya Sunan tidak mau menyerahkan mereka. Tetapi mengingat akibat-akibatnya bagi Kerajaan-kerajaan Jawa, maka ahli-ahli kerajaan memberi advis kepada Sunan, supaya orang-orang Wahabi itu diserahkan saja kepada Belanda. Lantaran desakan itu, maka mereka pun ditangkapi dan diserahkan kepada Belanda. Oleh Belanda orang-orang itu pun diusir kembali ke tanah Arab.
Tetapi di tahun 1801, artinya 12 tahun di belakang, kaum Wahabi datang lagi. Sekarang bukan lagi orang Arab, melainkan anak Indonesia sendiri, yaitu anak Minangkabau. Haji Miskin Pandai Sikat (Agam) Haji Abdurrahman Piabang (Lubuk Limapuluh Koto), dan Haji Mohammad Haris Tuanku Lintau (Luhak Tanah Datar).
Mereka menyiarkan ajaran itu di Luhak Agam (Bukittinggi) dan banyak beroleh murid dan pengikut. Diantara murid mereka ialah Tuanku Nan Renceh Kamang. Tuanku Samik Empat Angkat. Akhirnya gerakan mereka itu meluas dan melebar, sehingga terbentuklah “Kaum Paderi” yang terkenal. Di antara mereka ialah Tuanku Imam Bonjol. Maka terjadilah “Perang Paderi” yang terkenal itu. Tiga puluh tujuh tahun lamanya mereka melawan penjajahan Belanda.
Bilamana di dalam abad ke delapan belas dan Sembilan belas gerakan Wahabi dapat dipatahkan, pertama orang-orang Wahabi dapat diusir dari Jawa, kedua dapat dikalahkan dengan kekuatan senjata, namun di awal abad kedua puluh mereka muncul lagi!
Di Minangkabau timbullah gerakan yang dinamai “Kaum Muda.” Di Jawa datanglah K.H. A. Dahlan dan Syekh Ahmad Soorkati. K.H.A. Dahlan mendirikan “Muhammadiyah.” Syekh Ahmad Soorkati dapat membangun semangat baru dalam kalangan orang-orang Arab. Ketika dia mulai datang, orang Arab belum pecah menjadi dua, yaitu Arrabithah Alawiyah dan Al-Irsyad. Bahkan yang mendatangkan Syekh itu ke mari adalah dari kalangan yang kemudiannya membentuk Ar-Rabithah Adawiyah.
Musuhnya dalam kalangan Islam sendiri, pertama ialah Kerajaan Turki. Kedua Kerajaan Syarif di Mekkah, ketiga Kerajaan Mesir. Ulama-ulama pengambil muka mengarang buku-buku buat “mengafirkan” Wahabi. Bahkan ada di kalangan Ulama itu yang sampai hati mengarang buku mengatakan bahwa Muhammad bin Abdul Wahab pendiri faham ini adalah keturunan Musailamah Al Kazhab!
Pembangunan Wahabi pada umumnya adalah bermazhab Hambali, tetapi faham itu juga dianut oleh pengikut Mazhab Syafi’i, sebagai kaum Wahabi Minangkabau. Dan juga penganut Mazhab Hanafi, sebagai kaum Wahabi di India.
Sekarang “Wahabi” dijadikan alat kembali oleh beberapa golongan tertentu untuk menekan semangat kesadaran Islam yang bukan surut ke belakang di Indonesia ini, melainkan kian maju dan tersiar. Kebanyakan orang Islam yang tidak tahu di waktu ini, yang dibenci bukan lagi pelajaran wahabi, melainkan nama Wahabi.
Ir. Dr. Sukarno dalam “Surat-Surat dari Endeh”nya kelihatan bahwa fahamnya dalam agama Islam adalah banyak mengandung anasir Wahabi.
Kaum komunis Indonesia telah mencoba menimbulkan sentiment Ummat Islam dengan membangkit-bangkit nama Wahabi. Padahal seketika terdengar kemenangan gilang-gemilang yang dicapai oleh Raja Wahabi Ibnu Saud, yang mengusir kekuasaan keluarga Syarif dari Mekkah. Ummat Islam mengadakan Kongres Besar di Surabaya dan mengetok kawat mengucapkan selamat atas kemenangan itu (1925). Sampai mengutus dua orang pemimpin Islam dari Jawa ke Mekkah, yaitu H.O.S. Cokroaminoto dan K.H. Mas Mansur. Dan Haji Agus Salim datang lagi ke Mekkah tahun 1927.
Karena tahun 1925 dan tahun 1926 itu belum lama, baru lima puluh tahun lebih saja, maka masih banyak orang yang dapat mengenangkan bagaimana pula hebatnya reaksi pada waktu itu, baik dari pemerintah penjajahan, walau dari Ummat Islam sendiri yang ikut benci kepada Wahabi, karena hebatnya propaganda Kerajaan Turki dan Ulama-ulama pengikut Syarif.
Sekarang pemilihan umum yang pertama sudah selesai. Mungkin menyebut-nyebut “Wahabi” dan membusuk-busukkannya ini akan disimpan dahulu untuk pemilihan umum yang akan datang. Dan mungkin juga propaganda ini masuk ke dalam hati orang, sehingga gambar-gambar “Figur Nasional,” sebagai Tuanku Imam Bonjol dan K.H.A. Dahlan diturunkan dari dinding. Dan mungkin perkumpulan-perkumpulan yang memang nyata kemasukan faham Wahabi seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, Persis dan lain-lain diminta supaya dibubarkan saja.
Kepada orang-orang yang membangkit-bangkit bahwa pemuka-pemuka Islam dari SUmmatera yang datang memperjuangkan Islam di Tanah Jawa ini adalah penganut atau keturunan kaum Wahabi, kepada mereka orang-orang dari SUmmatera itu mengucapkan banyak-banyak terima kasih! Sebab kepada mereka diberikan kehormatan yang begitu besar!
Sungguh pun demikian, faham Wahabi bukanlah faham yang dipaksakan oleh Muslimin, baik mereka Wahabi atau tidak. Dan masih banyak yang tidak menganut faham ini dalam kalangan Masyumi. Tetapi pokok perjuangan Islam, yaitu hanya takut semata-mata kepada Allah dan anti kepada segala macam penjajahan, termasuk Komunis, adalah anutan dari mereka bersama!”
Dari paparan tersebut, jelaslah bahwa Buya HAMKA berhasil menelisik akar terjadinya fitnah yang dialamatkan kepada Wahabi. Ini menandakan vonis “Faham Hitam” yang dituduhkan kepada Wahabi pada dasarnya adalah modus lama namun didesain dengan gaya baru yang disesuaikan dengan kepentingan dan arahan yang disetting oleh para Think Tank “Gurita Kolonialisme Abad 21.”
Maka perhatikanlah apa yang pernah diutarakan oleh Buya HAMKA dalam pembahasan Islam dan Majapahit berikut ini:
“Memang, di zaman Jahiliyah kita bermusuhan, kita berdendam, kita tidak bersatu! Islam kemudiannya adalah sebagai penanam pertama dari jiwa persatuan. Dan Kompeni Belanda kembali memakai alat perpecahannya, untuk menguatkan kekuasaannya.”
“Tahukah tuan, bahwasanya tatkala Pangeran Dipenogero, Amirul Mukminin Tanah Jawa telah dapat ditipu dan perangnya dikalahkan, maka Belanda membawa Pangeran Sentot Ali Basyah ke Minangkabau buat mengalahkan Paderi? Tahukah tuan bahwa setelah Sentot merasa dirinya tertipu, sebab yang diperanginya itu adalah kawan sefahamnya dalam Islam, dan setelah kaum Paderi dan raja-raja Minangkabau memperhatikan ikatan serbannya sama dengan ikatan serban Ulama Minangkabau, sudi menerima Sentot sebagai “Amir” Islam di Minangkabau? Teringatkah tuan, bahwa lantaran rahasia bocor dan Belanda tahu, Sentot pun diasingkan ke Bengkulu dan di sana beliau berkubur buat selama-lamanya?”
“Maka dengan memakai faham Islam, dengan sendirinya kebangsaan dan kesatuan Indonesia terjamin. Tetapi dengan mengemukakan kebangsaan saja, tanpa Islam, orang harus kembali mengeruk, mengorek tambo lama, dan itulah pangkal bala dan bencana!”
Kiranya, sepeninggal HAMKA, alangkah laiknya jika Ummat Islam masih kenal dan bisa mengimplementasikan apa yang diutarakan Buya HAMKA dalam bukunya tersebut. Dengan demikian, niscaya Ummat Islam tidak perlu sampai menjadi keledai yang terjerembab dalam lubang yang dibuat oleh musuh-musuh Islam dengan modus yang sama tetapi dalam nuansa yang berbeda. Wallahu A’lam

Senin, 02 November 2015

SIAP JADI SEORANG PEMIMPIN???


Semua orang bisa menjadi seorang pemimpin, namun tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menjadi seorang pemimpin hebat yang sukses melaksanakan tugas dan mencapai tujuan yang diamanatkan kepadanya. Apa saja tanda orang yang belum siap memiliki posisi kepemimpinan? Berikut adalah 8 ciri pemimpin yang belum siap menjadi seorang pemimpin:
1. Kurang empati
Empati adalah kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain. Kurangnya empati kepada bawahan merupakan indikator utama dari seorang pemimpin yang buruk. Jika seorang pemimpin tidak bisa menempatkan diri dan merasakan apa yang dirasakan oleh bawahan, mereka tidak akan pernah menjadi pemimpin yang benar-benar hebat.

2. Takut perubahan
Perubahan mungkin menakutkan bagi semua orang, terutama bila melibatkan banyak uang atau menyangkut kepentingan banyak orang. Seorang pemimpin yang tidak berani mengambil keputusan dan tanggung jawab terkait sebuah perubahan yang harus dilakukan dengan cepat bukanlah ciri seorang pemimpin yang hebat.
3. Terlalu mudah berkompromi

Kemampuan tim yang selalu menghasilkan keberhasilan dalam melakukan tugas adalah bukti efektifnya kerja seorang pemimpin. Namun seorang pemimpin yang terlalu bersedia berkompromi dan permisif pada banyak hal yang menghambat prestasi kerja, justru membuktikan ia adalah pemimpin yang lemah. Pemimpin hebat adalah yang memiliki batas yang jelas untuk berkompromi dalam mencapai target.

4. Terlalu suka memerintah
Ini adalah kesalahpahaman umum yang banyak berlaku di masyarakat, bahwa orang-orang yang suka memerintah adalah bos yang baik. Padahal yang terjadi adalah sebaliknya. Seseorang yang hanya memerintah saja takkan mendapatkan loyalitas tim dan membuat bawahan merasa disepelekan. Pemimpin sejati tahu bagaimana cara mengelola bawahan dan bawahan setia dipimpin oleh mereka.

5. Plin-plan
Pemimpin harus membuat keputusan. Bila seorang pemimpin selalu terlihat bimbang pada keputusan besar dan maupun kecil, mereka mungkin akan mengalami banyak kesulitan dalam posisi kepemimpinan. Hal ini menunjukkan kurangnya rasa percaya diri yang akan menular pada bawahan yang dipimpin dalam wujud ketidakpercayaan dan hilangnya wibawa.

6. Miskin karakter
Dalam hidup, siapapun butuh teman dalam kehidupannya untuk mengingatkan seandainya perilaku atau sifat kita mulai bergeser. Seorang pemimpin yang tidak bisa menerima nasehat orang lain dan selalu beralasan untuk membela diri saat menemukan dirinya berada dalam posisi tidak tepat, saat itu orang akan tahu bahwa ia bukanlah seorang pemimpin yang baik. Seorang pemimpin yang baik sangat perlu penilaian, masukan dan melihat diri sendiri dari kacamata banyak orang sebagai bentuk introspeksi.

7. Tak punya keseimbangan hidup
Seseorang yang datang ke kantor paling pagi dan pulang paling akhir mungkin tampak seperti seorang kandidat yang layak untuk dipromosikan untuk jabatan kepemimpinan. Mungkin kesan itu hanya yang tampak diluar saja, tapi apakah kita tahu bahwa orang tersebut telah memiliki keseimbangan dalam hidupnya?  Kurangnya keseimbangan hidup dapat menjadi sumber masalah, misalnya kelelahan dan tidak optimalnya kualitas kerja. Seorang pemimpin yang tidak dapat bisa membagi waktu untuk dirinya sendiri, sudah pasti ritmenya akan terbawa pula dalam lingkungan pekerjaan dan mempengaruhi kerja tim secara keseluruhan.

8. Kurangnya kerendahan hati
Penting bagi seorang pemimpin untuk memberi kepercayaan kepada bawahan. Orang yang bertindak seolah-olah mereka bisa melakukan semuanya dan satu-satunya orang yang bisa melakukannya dengan benar, tidak mungkin bisa menjadi seorang pemimpin besar karena mereka akan terlalu sibuk mengerjakan tugas yang seharusnya bisa dilakukan oleh orang lain. One man show adalah bukan semangat seorang pemimpin yang baik.
8 ciri diatas bukanlah bukanlah suatu tanda yang mutlak, bukan untuk mengatakan bahwa seseorang yang memiliki salah satu karakteristik tersebut diatas secara otomatis tidak layak menjadi seorang pemimpin. Justru bila kita menyadari bila ada salah satu dari 8 ciri tersebut, maka kita dapat belajar untuk memperbaiki kebiasaan buruk agar dapat menjadi pemimpin yang lebih baik dalam hidup pribadi dan bisnis.

Dari 8 ciri tersebut di atas dapat diinterprestasikan bahwa seorang pimpinan atau ketua, direktur ataupun namanya seorang pemimpin harus MUMPUNI, untuk bisa mumpuni kuncinya pada bersandar pada keilmuan yang dimiliknya.

Sumber :
 http://wartawirausaha.com
Follow us:
 @idewirausaha on Twitter

Selasa, 27 Oktober 2015

SUMPAH PEMUDA 1926 DALAM NAUNGAN JAHUDI


Gerakan Boedi Oetomo adalah gerakat tarekat kebatinan yang kemudian menjadi gerakan yang membawa misi tentang Nasionalisme. Bahwa paham Nasionalisme merupakan paham politik ideologi kebangsaan yang dikenalkan dari barat.

Dr.Soetomo dan teman-temannya juga merupakan anggota sekaligus membawa pesan organisasi persaudaraan bernama freemason. Freemason melalui organ-organ strategisnya memiliki sebuah konsorisum perdagangan bernama VOC. Yang kemudian membentuk Pemerintahan kolonial.

Kongres Pemuda Indonesia Pertama 1926 diselenggarakan di loge milik Freemason di Batavia. Kongres pertama mendorong lahirnya Kongres Pemuda Indonesia 1928, yang kemudian melahirkan Sumpah Pemuda.

KAMI poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.


Begitulah ikrar dari para pemuda Indonesia yang dikumandangkan 84 tahun yang lalu. Sumpah Setia itu bagai magnet baru untuk menaikkan rasa patriotisme para pemuda dari berbagai belahan daerah.

Sumpah Pemuda sendiri merupakan hasil rumusan Kongres Pemuda Kedua yang diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Kongres Pemuda Kedua itu konon merupakan respon dan reaksi para pemuda atas Kongres Pertama di tahun 1926.

Akan tetapi, jarang banyak orang yang tahu sejatinya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober tahun 1928 penuh dengan inflitrasi kaum freemason. Sebenarnya ormas pemuda kala itu telah melakukan boikot kongres tahun 1926 karena dianggap ditumpangi kepentingan Zionis atau Freemasonry dan Belanda.


Hal ini dipicu karena lokasi Konggres Pertama yang berada di loge Broederkaten di Vrijmetselarijweg dan peranTheosofische Vereeniging (TV) sebagai penyandang dana Kongres Pemuda I (1926).

Rumusan Sumpah Pemuda sendiri ditulis Mohammad Yamin pada sebuah kertas ketika Mr. Sunario sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.

Mohammad Yamin adalah seorang anggota senior dari Jong Sumatranen Bond atau Ikatan Pemuda Sumatera. Pendirian Jong Sumateranen Bond sendiri difasilitasi oleh Theosofi. Bahkan rapat tahunan pertama organisasi ini diwarnai pengaruh paham yahudi dan Freemasonry. Pada gilirannya Yamin juga berjasa besar untuk menelurkan gagasan Pancasila yang dekat dengan ide dan gagasan kemasonan.

Maka itu tidak aneh, pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya memupuk rasa nasionalisme dan demokrasi. Sebuah ideologi yang memang telah menjadi agenda Yahudi untuk ditanamkan di negeri-negeri muslim.

Selain Jong Sumateranan, afiliasi pemuda yang ikut menyemarakkan Sumpah Pemuda 1928 adalah Jong Java. Artawijaya dalam bukunya Gerakan Theosofi di Indonesia menjelaskan bahwa agama Katolik dan Theosofi banyak mendapat tempat untuk diajarkan dalam pertemuan-pertemuan Jong Java. Namun perlakuan Jong Java terhadap agama-agama itu, sangat berbeda dengan agama Islam.

Syamsuridjal, salah seorang Tokoh Islam, pernah keluar dari keanggotaan Jong Java  Perkumpulan Pemuda Jawa) dan kemudian mendirikan Jong Islamietend Bond (JIB/ Perhimpunan Pemuda Islam). Sikapnya itu tidak lain sebagai reaksi penolakan Jong Java untuk mengadakan kuliah atau pengajaran keislaman bagi anggotanya yang beragama Islam dalam organisasi ketheosofian itu.

Sosok yang dianggap berpengaruh dalam menyingkirkan Islam dari organisasi Jong Java adalah Hendrik Kraemer, utusan Perkumpulan Bibel Belanda yang diangkat menjadi penasihat Jong Java. Sejarawan Karel Steenbrink dalam“Kawan dalam Pertikaian:Kaum Kolonial Belanda Islam di Indonesia 1596-1942″ menulis bahwa Kraemer adalah misionaris Ordo Jesuit yang aktif memberikan kuliah Theosofi dan ajaran Katolik kepada anggota Jong Java. Di organisasi pemuda inilah, Kraemer masuk untuk menihilkan ajaran-ajaran Islam.

Sebelumnya pada 1926- dua tahun sebelum peristiwa Sumpah Pemuda- para aktivis muda yang berasal dari Jong Theosofen (Pemuda Theosofi) dan Jong Vrijmetselaarij(Pemuda Freemason) sibuk mengadakan pertemuan-pertemuan kepemudaan. Pada tahun yang sama, mereka berusaha mengadakan kongres pemuda di Batavia yang ditolak oleh JIB, karena kongres ini didanai oleh organisasi Freemason dan diadakan di Loge Broderketen, Batavia.

Alasan penolakan JIB, dikhawatirkan kongres ini disusupi oleh kepentingan-kepentingan yang berusaha menyingkirkan Islam. Apalagi, Tabrani, penggagas kongres ini adalah anggota Freemason dan pernah mendapat beasiswa dari Dienaren van Indie (Abdi Hindia), sebuah lembaga beasiswa yang dikelola aktivis Theosofi-Freemason.

Maka itu tak heran, sampai sekarang perayaan sumpah pemuda selalu beriringan dengan misi-misi penanaman nilai-nilai demokrasi dan nasionalisme untuk menjauhkan kedekatan Indonesia terhadap ide-ide Syariat Islam.

Televisi lebih banyak menampilkan Profil Mohammad Yamin, Soekarno, Muhammad Hatta, ketimbang Muhammad Natsir atau Kasman Singodimejo. Mereka lebih suka mem-blow-up Soe Hok Gie (bahkan sudah difilmkan) daripada Lafran Pane. Padahal Soe Hok Gie hanya menulis surat-suratnya di catatan harian yang kemudian booming setelah diterbitkan LP3ES. (Lihat:Catatan Harian Sang Demonstran, LP3ES: 1983)

Berbeda dengan Lafran Pane. Pemuda kelahiran Sumatera Utara itu menggorganisir kawan-kawannya untuk bergerak melawan Sistem Pendidikan Barat di kampus-kampus kala itu. Lafran tahu betul latar belakang kemunduran Pemuda Indonesia tidak lain karena pendidikan sekularisme yang ditanamkan oleh Belanda jauh-jauh hari.

Ia juga mengkritik berkembangnya ajaran komunis di masyarakat Indonesia sebagai perusak kemurnian Tauhid. Tak ayal, dari situ ia pun kemudian mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai pusara pergerakan pemuda Islam melawan westernisasi. Ironisnya, HMI yang dulu dibesarkannya justru kini banyak diinflitrasi tradisi pemikiran Barat yang padahal dulu dilawannya di tahun 1947 (baca: tahun lahir HMI). Inilah taktik Freemason yang berhasil mereka mainkan hingga sekarang.

Secara ringkas bisa dipetakan, elit-elit modern Indonesia yang terjerat masuk sebagai anggota Gerakan Theosofi atau terpengaruh dengan ajaran-ajaran Teosofi, umumnya adalah para aktivis dari organisasi-organisasi bercorak kebatinan, kedaerahan, kebangsaan, dan netral agama alias sekular, seperti Tri Koro Dharmo, Jong Java, Jong Sumatrenan Bond, Boedi Oetomo, Taman Siswa, Persatoen Goeroe Hindia Belanda (PGHB), dan lain-lain. Kebanyakan dari mereka juga umumnya adalah alumnus Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (School tot Opleiding van Indische Artsen/STOVIA), Sekolah Pamong Pradja (Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren/OSVIA), Sekolah Hukum (Rechtschool) dan pernah mendapat beasiswa di negeri Belanda, tempat berkembang suburnya organisasi Theosofi dan Freemason pada masa itu.

Salah satu elit modern Indonesia yang dikenal menjadi anggota Theosofi adalah Mohammad Tabrani Soerjowitjitro. Pria kelahiran Pamekasan, Madura, 10 Oktober 1904 ini adalah alumnus Sekolah Pamong Pradja (OSVIA) yang kemudian mendapat beasiswa dari perkumpulan yang dibentuk oleh Theosofi, Dianeren van Indie. Selain sebagai aktivis Jong Java (Perhimpunan Pemuda Jawa), Tabrani juga dikenal sebagai Ketua Jong Theosofen (Pemuda Theosofi). Kiprahnya di dunia pers juga menobatkan dirinya sebagai salah satu tokoh pers Indonesia.

Kiprah menonjol dari Mohammad Tabrani sebagai anggota Theosofi dan Jong Java adalah ketika menggagas Kongres Pemuda Indonesia pertama pada 30 Mei-20 April 1926 di Batavia dan Kongres Pemuda Kedua pada 1928 yang kemudian menghasilkan Sumpah Pemuda. Sebelum kongres pemuda berlangsung, pada 15 November 1925, Tabrani mengumpulkan para pemuda dari beragam latar organisasi di Gedung Lux Orientis, Batavia untuk merumuskan format kongres yang akan diadakan.

Sejarawan Ridwan Saidi dan peneliti gerakan Yahudi Allahyarham A.D El-Marzededeq menyebut
ada keterlibatan organisasi Theosofi dan Vrijmetselarij (Freemason) dalam kongres yang akan berlangsung tersebut. Maklum, Tabrani sebagai penggagas adalah aktivis Theosofi dan Dienaren van Indie. Sedangkan peserta lain yang berasal dari Jong Sumatrenan, Jong Java, Sekar Roekoen, Jong Batak, dan lain-lain kebanyakan dari mereka juga penganut Theosofi.

Dugaan keterlibatan Theosofi dan Vrijmeteselarij dalam kongres itu makin menguat, ketika kongres pertama pada tahun 1926 tersebut diadakan di Loge de Ster in het Oosten (Loge Bintang Timur) yang terletak di kawasan Weltevreden, Batavia atau Jalan Boedi Oetomo, Jakarta Pusat saat ini. Loge de Ster in het Oosten adalah loge terbesar milik kelompok Freemason selain Loge de Vriendschap di Batavia dan Loge La Constante et Fidale di Semarang. Loge de Ster in het Oosten pernah dijadikan tempat berkumpulnya ratusan anggota Boedi Oetomo untuk mendengarkan ceramah umum (openbare) tokoh Theosofi, Dirk van Hinloopen Labberton, pada waktu itu. Pada 16 Januari 1909, Labberton pernah memberikan ceramah di loge ini dengan tema "Theosofie in verband met Boedi Oetomo" (Theosofi dalam Kaitannya dengan Boedi Oetomo).


Mengapa Kongres Pemuda Pertama tahun 1926 dilakukan di loge Freemason, loge yang menurut sejarawan Onghokham pada masa lalu disebut sebagai "Gedong Setan" karena kaum Freemason sering mengadakan ritual setan di gedung tersebut? Apakah ada agenda tertentu di balik penyelenggaran kongres tersebut, terkait dengan upaya Theosofi-Freemason mempengaruhi elit nasional negeri ini? Mengapa pula gagasan kongres tersebut berasal dari Tabrani yang aktif dalam Jong Theosofen (Pemuda Theosofi)?

Risalah "Laporan Kongres Pemuda Pertama Indonesia di Weltevreden 1926" yang dieditori oleh sejarawan Abdurrachman Surjomihardjo dan diberi kata pengantar oleh Mohammad Tabrani menuliskan ada tiga hal yang menjadi fokus pembahasan kongres pertama tersebut, yaitu:
Kesatuan, Kedudukan Wanita, dan Agama. Bahder Djohan, anggota Jong Sumatrenan Bond yang juga terpengaruh paham Theosofi menyampaikan makalah "Kedudukan Wanita dalam Masyarakat Indonesia." Makalah tersebut dibacakan oleh Djamaluddin Adinegoro, tokoh pers nasional yang juga anggota Dienaren van Indie. Selain mereka, anggota Theosofi yang terlibat dalam kongres pertama adalah Sanusi Pane.

Setelah kongres pertama, Kongres Pemuda Indonesia kedua berlangsung pada 28 Oktober 1928. Peristiwa ini dikenal sebagai Hari Lahirnya Sumpah Pemuda, dimana semua pemuda nasional berkumpul dan berikrar tentang persatuan dan kesatuan. 
Kongres ini menghasilkan asas yang dipakai dalam perkumpulan kebangsaan, yaitu: Asas kemauan, sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan dan kepanduan. Semua asas tersebut bercorak sekularisme dan humanisme.Sebagaimana kongres pertama, tokoh-tokoh yang hadir pada kongres kedua tahun 1928 juga banyak yang terpengaruh oleh paham Theosofi, seperti Amir Syarifuddin, Siti Soendari, Mohammad Yamin, J. Leimena, Ki Sarmidi Mangoensarkoro, Ki Hadjar Dewantara, dan lain-lain.

hanya sebuat referensi,


APA ITU AZAB


Definisi Azab
Secara Etimologis
1.    Azab menurut bahasa Arab ‘aqoba-yu’kibu yang artinya balasan, siksa, teguran bagi umat yang melanggar larangan agama.

2.     Dalam bahasa inggris Azab adalah “punishment” yaitu hukuman, siksaan, to take o’s like a man menerima penyiksaan itu sebagai seorang jantan, perilaku yang amat kasar. punishment is will occurs if human collide the prohibition of religion and they will get turtune from Gad
3.     Dan dalam bahasa Indonesia Azab adalah siksaan yang di hadapi manusia atau makhluk Tuhan lainnya

Secara terrminologi :
1.    Menurut salah satu ahli Tafsir : Azab adalah siksaan yang menimpa manusia sebagai akibat dari kesalahan yang pernah atau sedang dilakukan atas larangan Tuhan.
2.   Menurut Prof. Quraish Shihab : Azab adalah suatu kemurkaan Allah akibatpelanggaran yang dilakukan manusia yaitu pelanggaran sunnatullah di alam semesta dan pelanggaran syariat Allah yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul-Nya, termasuk Nabi Muhammad SAW.
Dari definisi diatas menyimpulkan bahwa Azab adalah suatu peringatan akan kemurkaan Allah pada makhluknya (manusia) yang telah melanggar perintah Allah yaitu perbuatan yang dilarang baik berupa ibadah, amal, iman dan lain-lain, dibalasnya dengan teguran berupa bencana alam.

Bentuk dan Penyebab azab
Sesungguhnya kita telah punya jawabannya dari ayat-ayat Alquran. Ketika Allah membinasakan suatu kaum, di satu sisi hal tersebut adalah azab yang Allah timpakan kepada mereka lantaran kekufuran mereka kepada Allah swt. Namun, di sisi lain itu merupakan ujian bagi kaum yang beriman, supaya mereka lebih dapat meningkatkan keimanannya kepada Allah swt. Contoh, kisah Nabi Nuh a.s. yang dipaparkan Allah dalam surat ayat 25-49. Di sana Allah mengisahkan kaum Nabi Nuh senantiasa ingkar dan tidak mau beriman kepada Allah swt., maka Allah timpakan azab kepada mereka berupa banjir yang sangat besar. Bahkan, Alquran menggambarkan banjir itu datang dengan gelombang seperti gunung. (Hud: 42). Peristiwa ini jika dilihat dari satu sisi adalah azab yang Allah timpakan kepada kaum Nabi Nuh karena keingkaran dan kekufuran mereka. Namun di sisi yang lain peristiwa itu adalah ujian dan cobaan sekaligus rahmat bagi orang-orang beriman yang mengikuti Nabi Nuh. Bagi Nabi Nuh sendiri, kejadian tersebut merupakan ujian berat. Karena dengan mata kepalanya sendiri dari bahtera yang dinaikinya, ia menyaksikan anak kandungnya lenyap ditelan ombak besar (Hud: 43). Orang tua mana yang tega melihat anaknya meregang nyawa ditelan ombak besar, sementara ia aman di atas sebuah bahtera? Jadi, ini adalah cobaan yang begitu berat bagi Nabi Nuh, sekaligus peringatan bagi Nabi Nuh sendiri maupun bagi umatnya. Dalam Alquran banyak sekali diceritakan tentang musibah dan bencana yang menimpa orang-orang terdahulu.Dan, semua musibah dan bencana besar yang pernah menimpa manusia  diterangkan oleh Alquran adalah selalu terkait dengan kekufuran dan keingkaran manusia itu sendiri kepada Allah swt.  Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).
Berikut adalah di antara ayat-ayat Alquran yang berbicara mengenai bencana atau azab yang menimpa suatu kaum kaum, termasuk diri kita.
1.       Penyebab terjadi azab atau musibah adalah lantaran mendustakan ayat-ayat Allah. Padahal jika kita beriman, Allah akan membukakan pintu-pintu keberkahan baik dari langit maupun dari bumi. (Al-A’raf: 96)
2. Penyebab terjadinya bencana atau musibah adalah lantaran manusia menyekutukan Allah dengan sesuatu (baca: syirik), seperti mengatakan bahwa Allah memiliki anak.
Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh. Karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. (Maryam: 91).
3.    Allah timpakan bencana kepada kaum yang tidak mau memberikan peringatan kepada orang-orang dzalim di antara mereka. Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (Al-Anfal: 25).
4.     Dalam hadits juga digambarkan bahwa azab dan bencana itu bisa bersumber dari kemaksiatan yang akibatnya dirasakan secara sosial. Di antaranya adalah perbuatan zina dan riba. Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah suatu kaum mereka melakukan dengan terang-terangan berupa riba dan zina, melainkan halal bagi Allah untuk menimpakan azabnya kepada mereka.” (HR. Ahmad).

Sesungguhnya masih banyak ayat dan hadits yang memaparkan tentang sebab-sebab terjadinya musibah atau bencana. Tapi, dari yang dipaparkan di atas kita tahu bahwa setiap musibah dan bencana selalu terkait dengan dosa yang dilakukan oleh manusia. Bentuknya bisa berupa membudayanya praktik riba dan zina. Bisa juga karena mengkufuri nikmat Allah, mendustakan ayat-ayat Allah, dan menyekutukan Allah.


Senin, 26 Oktober 2015

BENCANA ASAP INDONESIA MERUPAKAN ADZAB ALLAH SWT

BENCANA PRESPEKTIF AL-QURAN

Hari ini ketika membaca Al-Qur'an, saya tidak sadar tenyata sedang membaca surat Ad-Dukhon(surat ke-44).

Ad-Dukhon artinya kabut/asap. Bacaan surat Ad-Dukhon membuat saya terhenti sejenak ketika mengaitkan dengan fenomena asap yang beberapa bulan ini sedang melanda negeri kita Indonesia.

Berikut beberapa hal yang tiba-tiba terlintas di pikiran saya ketika membaca 'Surat Asap' pagi ini.

PERTAMA, ternyata asap adalah salah satu bentuk siksaan dari Allah SWT. Artinya, asap adalah salah satu tentara Allah SWT yang dikirim utk memberi peringatan kepada manusia, seperti halnya air bah yang dikirim untuk menenggelamkan kaum Nuh, teriakan keras yang dikirim untuk menghancurkan kaum Tsamud, badai yang pernah dikirim untuk menghancurkan kaum Ad.

فَٱرۡتَقِبۡ يَوۡمَ تَأۡتِى ٱلسَّمَآءُ بِدُخَانٍ۬ مُّبِينٍ۬ (١٠) يَغۡشَى ٱلنَّاسَ‌ۖ هَـٰذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ۬ (١١

"MAKA TUNGGULAH HARI KETIKA LANGIT MEMBAWA KABUT ASAP YANG NYATA, YANG MELIPUTI MANUSIA. INILAH AZAB YANG PEDIH." (QS Ad-Dukhon: 10-11).

KEDUA, apakah bencana asap yang ada di negara kita ini termasuk ujian untuk menguji keimanan kita, atau siksaan untuk menghukum dosa -dosa kita? Saya rasa tidak ada manfaatnya kita selalu membela diri, menganggap ini adalah ujian karena keimanan kita. Sehingga, kita merasa baik-baik saja dan tidak ada yang salah dengan diri 'kita'. Sikap merasa suci seperti ini justru akan membawa kita kepada kubangan kesalahan.

Sebaliknya, tidak ada salahnya kita menganggap bencana asap ini adalah hukuman atas dosa-dosa kita. Mungkin hukuman karena pemimpin kita yang suka berdusta, pejabat yang tidak memegang amanat, pengusaha yang serakah, dan rakyat yang telah kehilangan karakteristik amar ma'ruf nahi mungkar.

Kita semua sudah sedemikian jauh dari ajaran agama dan nilai-nilai kemanusiaan.

Tak ada salahnya kita menganggap bencana asap ini adalah hukuman Allah SWT atas kelalaian dan kemaksiatan kita, sehingga kita tergerak untuk bertaubat, introspeksi dan mawas diri.

KETIGA, ada Doa bagus yang diajarkan Allah dalam Surat Ad-Dukhon ini. Doa tersebut diletakkan pas setelah pernyataan bahwa asap itu adalah bagian dari azab Allah SWT.

Jadi doa ini, menurut pendapat saya, baik untuk dibaca banyak-banyak ketika kita ingin terbebas dari bencana asap seperti ini.

Doa itu berbunyi:

 
رَّبَّنَا ٱكۡشِفۡ عَنَّا ٱلۡعَذَابَ إِنَّا مُؤۡمِنُونَ (١٢

"YA TUHAN KAMI, HILANGKANLAH DARI KAMI AZAB INI, SESUNGGUHNYA KAMI ORANG YANG BERIMAN." (QS Ad-Dukhon: 12)


Doa ini menarik setidaknya dari beberapa sisi:

- Ia diawali dengan panggilan kepada Allah SWT dengan kata "Rabb" yang berarti Dzat yang mengatur, mengendalikan dan merancang segala sesuatu. Dalam artian sempit, Allah dengan kata Rabb ini adalah Dzat yang mengatur dan mengendalikan datang dan perginya asap.

- Kata iksyif pada mulanya berarti membuka sesuatu yang tertutup. Penggunaan kata ini tentu sangat tepat karena asap memang menutupi segala sesuatu. Menutupi pandangan, menutupi pernapasan, menutupi kebebasan bergerak, dan lain-lain. Sehingga ketika kita minta dihilangkan asap itu, kita minta agar Allah membukanya dari diri kita.

- Doa ini diikuti dengan pengakuan keimanan "sesungguhnya kami orang yang beriman". Pengakuan seperti ini penting, paling tidak, untuk 'memancing' rasa kasih sayang Allah SWT. Seakan-akan kita berkata, "Ya Allah, meskipun kami ini banyak berbuat dosa, tapi kami ini tetaplah hamba-hambamu yang beriman, kami tetap mengesakan Engkau, kami tidak menyekutukan Engkau. Maka kasihanilah kami, lenyapkan azab ini dari kami, karena sesungguhnya Engkau maha belas kasih terhadap hamba hamba-Mu yg beriman." Dan setelah mengakui keimanan dengan lisan, maka selanjutnya kita mengakuinya dengan perbuatan .

- Pada beberapa ayat setelah doa itu, Allah SWT menjawab dengan mengatakan,

 إِنَّا كَاشِفُواْ ٱلۡعَذَابِ قَلِيلاً‌ۚ

"SUNGGUH KAMI AKAN MENGHILANGKAN AZAB TERSEBUT AGAK SEDIKIT."
 (QS Ad-Dukhon : 15)

Ya, setelah doa tadi diucapkan, Allah SWT menjanjikan akan menghilangkan azab tersebut sedikit terlebih dahulu. Dihilangkan sedikit azab sedikit tersebut untuk menguji apa yang selanjutnya akan kita lakukan?!!! Kita kembali kepada Allah atau kembali kepada kemaksiatan? Jangan sampai kita mengikuti pernyataan pada bagian selanjutnya dari ayat ini, "Sungguh kamu akan kembali ingkar!".

Beberapa titik asap yang sudah berkurang di sebagian daerah jangan sampai membuat kita kembali kepada dosa-dosa. Ketika kembali ingkar,maka Allah SWT akan memberikan hukuman lain yang lebih besar seperti yang tertulis pada ayat setelahnya.

 يَوۡمَ نَبۡطِشُ ٱلۡبَطۡشَةَ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ إِنَّا مُنتَقِمُونَ (١٦

"HARI KETIKA KAMI MENGHANTAM DENGAN HANTAMAN HANG KERAS. SUNGGUH KAMI (ALLAH) MEMBALAS." (QS Ad-Dukhon : 16)

Tapi ketika kita benar-benar insaf, taubat, dan berusaha menjauhi dosa semampu kita, maka insyaAllah Allah SWT akan menghilangkan azab tersebut secara keseluruhan. Allah menjanjikan kepada kita tempat yang aman, menjanjikan pula kenikmatan surga seperti yang tersebut pada bagian-bagian akhir surat ini. Itulah nanti kemenangan yang besar!


 إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِى مَقَامٍ أَمِينٍ۬ (٥١) فِى جَنَّـٰتٍ۬ وَعُيُونٍ۬ (٥٢)... فَضۡلاً۬ مِّن رَّبِّكَ‌ۚ ذَٲلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ

"SESUNGGUHNYA ORANG YANG BERTAKWA DALAM TEMPAT YANG AMAN. DALAM TAMAN-TAMAN DAN MATA AIR-MATA AIR.......KARUNIA DARI TUHANMU. YANG
DEMIKIAN ITULAH KEMENANGAN YANG BESAR"


Wallahu a'lam.

lihat video Indonesia kebakaran : kebakaran hutan di kanan kiri jalan