Selasa, 27 Oktober 2015

SUMPAH PEMUDA 1926 DALAM NAUNGAN JAHUDI


Gerakan Boedi Oetomo adalah gerakat tarekat kebatinan yang kemudian menjadi gerakan yang membawa misi tentang Nasionalisme. Bahwa paham Nasionalisme merupakan paham politik ideologi kebangsaan yang dikenalkan dari barat.

Dr.Soetomo dan teman-temannya juga merupakan anggota sekaligus membawa pesan organisasi persaudaraan bernama freemason. Freemason melalui organ-organ strategisnya memiliki sebuah konsorisum perdagangan bernama VOC. Yang kemudian membentuk Pemerintahan kolonial.

Kongres Pemuda Indonesia Pertama 1926 diselenggarakan di loge milik Freemason di Batavia. Kongres pertama mendorong lahirnya Kongres Pemuda Indonesia 1928, yang kemudian melahirkan Sumpah Pemuda.

KAMI poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.


Begitulah ikrar dari para pemuda Indonesia yang dikumandangkan 84 tahun yang lalu. Sumpah Setia itu bagai magnet baru untuk menaikkan rasa patriotisme para pemuda dari berbagai belahan daerah.

Sumpah Pemuda sendiri merupakan hasil rumusan Kongres Pemuda Kedua yang diadakan oleh Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), sebuah organisasi pemuda yang beranggota pelajar dari seluruh Indonesia. Kongres Pemuda Kedua itu konon merupakan respon dan reaksi para pemuda atas Kongres Pertama di tahun 1926.

Akan tetapi, jarang banyak orang yang tahu sejatinya Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober tahun 1928 penuh dengan inflitrasi kaum freemason. Sebenarnya ormas pemuda kala itu telah melakukan boikot kongres tahun 1926 karena dianggap ditumpangi kepentingan Zionis atau Freemasonry dan Belanda.


Hal ini dipicu karena lokasi Konggres Pertama yang berada di loge Broederkaten di Vrijmetselarijweg dan peranTheosofische Vereeniging (TV) sebagai penyandang dana Kongres Pemuda I (1926).

Rumusan Sumpah Pemuda sendiri ditulis Mohammad Yamin pada sebuah kertas ketika Mr. Sunario sebagai utusan kepanduan tengah berpidato pada sesi terakhir kongres. Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.

Mohammad Yamin adalah seorang anggota senior dari Jong Sumatranen Bond atau Ikatan Pemuda Sumatera. Pendirian Jong Sumateranen Bond sendiri difasilitasi oleh Theosofi. Bahkan rapat tahunan pertama organisasi ini diwarnai pengaruh paham yahudi dan Freemasonry. Pada gilirannya Yamin juga berjasa besar untuk menelurkan gagasan Pancasila yang dekat dengan ide dan gagasan kemasonan.

Maka itu tidak aneh, pada rapat penutup, di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya memupuk rasa nasionalisme dan demokrasi. Sebuah ideologi yang memang telah menjadi agenda Yahudi untuk ditanamkan di negeri-negeri muslim.

Selain Jong Sumateranan, afiliasi pemuda yang ikut menyemarakkan Sumpah Pemuda 1928 adalah Jong Java. Artawijaya dalam bukunya Gerakan Theosofi di Indonesia menjelaskan bahwa agama Katolik dan Theosofi banyak mendapat tempat untuk diajarkan dalam pertemuan-pertemuan Jong Java. Namun perlakuan Jong Java terhadap agama-agama itu, sangat berbeda dengan agama Islam.

Syamsuridjal, salah seorang Tokoh Islam, pernah keluar dari keanggotaan Jong Java  Perkumpulan Pemuda Jawa) dan kemudian mendirikan Jong Islamietend Bond (JIB/ Perhimpunan Pemuda Islam). Sikapnya itu tidak lain sebagai reaksi penolakan Jong Java untuk mengadakan kuliah atau pengajaran keislaman bagi anggotanya yang beragama Islam dalam organisasi ketheosofian itu.

Sosok yang dianggap berpengaruh dalam menyingkirkan Islam dari organisasi Jong Java adalah Hendrik Kraemer, utusan Perkumpulan Bibel Belanda yang diangkat menjadi penasihat Jong Java. Sejarawan Karel Steenbrink dalam“Kawan dalam Pertikaian:Kaum Kolonial Belanda Islam di Indonesia 1596-1942″ menulis bahwa Kraemer adalah misionaris Ordo Jesuit yang aktif memberikan kuliah Theosofi dan ajaran Katolik kepada anggota Jong Java. Di organisasi pemuda inilah, Kraemer masuk untuk menihilkan ajaran-ajaran Islam.

Sebelumnya pada 1926- dua tahun sebelum peristiwa Sumpah Pemuda- para aktivis muda yang berasal dari Jong Theosofen (Pemuda Theosofi) dan Jong Vrijmetselaarij(Pemuda Freemason) sibuk mengadakan pertemuan-pertemuan kepemudaan. Pada tahun yang sama, mereka berusaha mengadakan kongres pemuda di Batavia yang ditolak oleh JIB, karena kongres ini didanai oleh organisasi Freemason dan diadakan di Loge Broderketen, Batavia.

Alasan penolakan JIB, dikhawatirkan kongres ini disusupi oleh kepentingan-kepentingan yang berusaha menyingkirkan Islam. Apalagi, Tabrani, penggagas kongres ini adalah anggota Freemason dan pernah mendapat beasiswa dari Dienaren van Indie (Abdi Hindia), sebuah lembaga beasiswa yang dikelola aktivis Theosofi-Freemason.

Maka itu tak heran, sampai sekarang perayaan sumpah pemuda selalu beriringan dengan misi-misi penanaman nilai-nilai demokrasi dan nasionalisme untuk menjauhkan kedekatan Indonesia terhadap ide-ide Syariat Islam.

Televisi lebih banyak menampilkan Profil Mohammad Yamin, Soekarno, Muhammad Hatta, ketimbang Muhammad Natsir atau Kasman Singodimejo. Mereka lebih suka mem-blow-up Soe Hok Gie (bahkan sudah difilmkan) daripada Lafran Pane. Padahal Soe Hok Gie hanya menulis surat-suratnya di catatan harian yang kemudian booming setelah diterbitkan LP3ES. (Lihat:Catatan Harian Sang Demonstran, LP3ES: 1983)

Berbeda dengan Lafran Pane. Pemuda kelahiran Sumatera Utara itu menggorganisir kawan-kawannya untuk bergerak melawan Sistem Pendidikan Barat di kampus-kampus kala itu. Lafran tahu betul latar belakang kemunduran Pemuda Indonesia tidak lain karena pendidikan sekularisme yang ditanamkan oleh Belanda jauh-jauh hari.

Ia juga mengkritik berkembangnya ajaran komunis di masyarakat Indonesia sebagai perusak kemurnian Tauhid. Tak ayal, dari situ ia pun kemudian mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sebagai pusara pergerakan pemuda Islam melawan westernisasi. Ironisnya, HMI yang dulu dibesarkannya justru kini banyak diinflitrasi tradisi pemikiran Barat yang padahal dulu dilawannya di tahun 1947 (baca: tahun lahir HMI). Inilah taktik Freemason yang berhasil mereka mainkan hingga sekarang.

Secara ringkas bisa dipetakan, elit-elit modern Indonesia yang terjerat masuk sebagai anggota Gerakan Theosofi atau terpengaruh dengan ajaran-ajaran Teosofi, umumnya adalah para aktivis dari organisasi-organisasi bercorak kebatinan, kedaerahan, kebangsaan, dan netral agama alias sekular, seperti Tri Koro Dharmo, Jong Java, Jong Sumatrenan Bond, Boedi Oetomo, Taman Siswa, Persatoen Goeroe Hindia Belanda (PGHB), dan lain-lain. Kebanyakan dari mereka juga umumnya adalah alumnus Sekolah Pendidikan Dokter Hindia (School tot Opleiding van Indische Artsen/STOVIA), Sekolah Pamong Pradja (Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren/OSVIA), Sekolah Hukum (Rechtschool) dan pernah mendapat beasiswa di negeri Belanda, tempat berkembang suburnya organisasi Theosofi dan Freemason pada masa itu.

Salah satu elit modern Indonesia yang dikenal menjadi anggota Theosofi adalah Mohammad Tabrani Soerjowitjitro. Pria kelahiran Pamekasan, Madura, 10 Oktober 1904 ini adalah alumnus Sekolah Pamong Pradja (OSVIA) yang kemudian mendapat beasiswa dari perkumpulan yang dibentuk oleh Theosofi, Dianeren van Indie. Selain sebagai aktivis Jong Java (Perhimpunan Pemuda Jawa), Tabrani juga dikenal sebagai Ketua Jong Theosofen (Pemuda Theosofi). Kiprahnya di dunia pers juga menobatkan dirinya sebagai salah satu tokoh pers Indonesia.

Kiprah menonjol dari Mohammad Tabrani sebagai anggota Theosofi dan Jong Java adalah ketika menggagas Kongres Pemuda Indonesia pertama pada 30 Mei-20 April 1926 di Batavia dan Kongres Pemuda Kedua pada 1928 yang kemudian menghasilkan Sumpah Pemuda. Sebelum kongres pemuda berlangsung, pada 15 November 1925, Tabrani mengumpulkan para pemuda dari beragam latar organisasi di Gedung Lux Orientis, Batavia untuk merumuskan format kongres yang akan diadakan.

Sejarawan Ridwan Saidi dan peneliti gerakan Yahudi Allahyarham A.D El-Marzededeq menyebut
ada keterlibatan organisasi Theosofi dan Vrijmetselarij (Freemason) dalam kongres yang akan berlangsung tersebut. Maklum, Tabrani sebagai penggagas adalah aktivis Theosofi dan Dienaren van Indie. Sedangkan peserta lain yang berasal dari Jong Sumatrenan, Jong Java, Sekar Roekoen, Jong Batak, dan lain-lain kebanyakan dari mereka juga penganut Theosofi.

Dugaan keterlibatan Theosofi dan Vrijmeteselarij dalam kongres itu makin menguat, ketika kongres pertama pada tahun 1926 tersebut diadakan di Loge de Ster in het Oosten (Loge Bintang Timur) yang terletak di kawasan Weltevreden, Batavia atau Jalan Boedi Oetomo, Jakarta Pusat saat ini. Loge de Ster in het Oosten adalah loge terbesar milik kelompok Freemason selain Loge de Vriendschap di Batavia dan Loge La Constante et Fidale di Semarang. Loge de Ster in het Oosten pernah dijadikan tempat berkumpulnya ratusan anggota Boedi Oetomo untuk mendengarkan ceramah umum (openbare) tokoh Theosofi, Dirk van Hinloopen Labberton, pada waktu itu. Pada 16 Januari 1909, Labberton pernah memberikan ceramah di loge ini dengan tema "Theosofie in verband met Boedi Oetomo" (Theosofi dalam Kaitannya dengan Boedi Oetomo).


Mengapa Kongres Pemuda Pertama tahun 1926 dilakukan di loge Freemason, loge yang menurut sejarawan Onghokham pada masa lalu disebut sebagai "Gedong Setan" karena kaum Freemason sering mengadakan ritual setan di gedung tersebut? Apakah ada agenda tertentu di balik penyelenggaran kongres tersebut, terkait dengan upaya Theosofi-Freemason mempengaruhi elit nasional negeri ini? Mengapa pula gagasan kongres tersebut berasal dari Tabrani yang aktif dalam Jong Theosofen (Pemuda Theosofi)?

Risalah "Laporan Kongres Pemuda Pertama Indonesia di Weltevreden 1926" yang dieditori oleh sejarawan Abdurrachman Surjomihardjo dan diberi kata pengantar oleh Mohammad Tabrani menuliskan ada tiga hal yang menjadi fokus pembahasan kongres pertama tersebut, yaitu:
Kesatuan, Kedudukan Wanita, dan Agama. Bahder Djohan, anggota Jong Sumatrenan Bond yang juga terpengaruh paham Theosofi menyampaikan makalah "Kedudukan Wanita dalam Masyarakat Indonesia." Makalah tersebut dibacakan oleh Djamaluddin Adinegoro, tokoh pers nasional yang juga anggota Dienaren van Indie. Selain mereka, anggota Theosofi yang terlibat dalam kongres pertama adalah Sanusi Pane.

Setelah kongres pertama, Kongres Pemuda Indonesia kedua berlangsung pada 28 Oktober 1928. Peristiwa ini dikenal sebagai Hari Lahirnya Sumpah Pemuda, dimana semua pemuda nasional berkumpul dan berikrar tentang persatuan dan kesatuan. 
Kongres ini menghasilkan asas yang dipakai dalam perkumpulan kebangsaan, yaitu: Asas kemauan, sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan dan kepanduan. Semua asas tersebut bercorak sekularisme dan humanisme.Sebagaimana kongres pertama, tokoh-tokoh yang hadir pada kongres kedua tahun 1928 juga banyak yang terpengaruh oleh paham Theosofi, seperti Amir Syarifuddin, Siti Soendari, Mohammad Yamin, J. Leimena, Ki Sarmidi Mangoensarkoro, Ki Hadjar Dewantara, dan lain-lain.

hanya sebuat referensi,


APA ITU AZAB


Definisi Azab
Secara Etimologis
1.    Azab menurut bahasa Arab ‘aqoba-yu’kibu yang artinya balasan, siksa, teguran bagi umat yang melanggar larangan agama.

2.     Dalam bahasa inggris Azab adalah “punishment” yaitu hukuman, siksaan, to take o’s like a man menerima penyiksaan itu sebagai seorang jantan, perilaku yang amat kasar. punishment is will occurs if human collide the prohibition of religion and they will get turtune from Gad
3.     Dan dalam bahasa Indonesia Azab adalah siksaan yang di hadapi manusia atau makhluk Tuhan lainnya

Secara terrminologi :
1.    Menurut salah satu ahli Tafsir : Azab adalah siksaan yang menimpa manusia sebagai akibat dari kesalahan yang pernah atau sedang dilakukan atas larangan Tuhan.
2.   Menurut Prof. Quraish Shihab : Azab adalah suatu kemurkaan Allah akibatpelanggaran yang dilakukan manusia yaitu pelanggaran sunnatullah di alam semesta dan pelanggaran syariat Allah yang diturunkan kepada para Nabi dan Rasul-Nya, termasuk Nabi Muhammad SAW.
Dari definisi diatas menyimpulkan bahwa Azab adalah suatu peringatan akan kemurkaan Allah pada makhluknya (manusia) yang telah melanggar perintah Allah yaitu perbuatan yang dilarang baik berupa ibadah, amal, iman dan lain-lain, dibalasnya dengan teguran berupa bencana alam.

Bentuk dan Penyebab azab
Sesungguhnya kita telah punya jawabannya dari ayat-ayat Alquran. Ketika Allah membinasakan suatu kaum, di satu sisi hal tersebut adalah azab yang Allah timpakan kepada mereka lantaran kekufuran mereka kepada Allah swt. Namun, di sisi lain itu merupakan ujian bagi kaum yang beriman, supaya mereka lebih dapat meningkatkan keimanannya kepada Allah swt. Contoh, kisah Nabi Nuh a.s. yang dipaparkan Allah dalam surat ayat 25-49. Di sana Allah mengisahkan kaum Nabi Nuh senantiasa ingkar dan tidak mau beriman kepada Allah swt., maka Allah timpakan azab kepada mereka berupa banjir yang sangat besar. Bahkan, Alquran menggambarkan banjir itu datang dengan gelombang seperti gunung. (Hud: 42). Peristiwa ini jika dilihat dari satu sisi adalah azab yang Allah timpakan kepada kaum Nabi Nuh karena keingkaran dan kekufuran mereka. Namun di sisi yang lain peristiwa itu adalah ujian dan cobaan sekaligus rahmat bagi orang-orang beriman yang mengikuti Nabi Nuh. Bagi Nabi Nuh sendiri, kejadian tersebut merupakan ujian berat. Karena dengan mata kepalanya sendiri dari bahtera yang dinaikinya, ia menyaksikan anak kandungnya lenyap ditelan ombak besar (Hud: 43). Orang tua mana yang tega melihat anaknya meregang nyawa ditelan ombak besar, sementara ia aman di atas sebuah bahtera? Jadi, ini adalah cobaan yang begitu berat bagi Nabi Nuh, sekaligus peringatan bagi Nabi Nuh sendiri maupun bagi umatnya. Dalam Alquran banyak sekali diceritakan tentang musibah dan bencana yang menimpa orang-orang terdahulu.Dan, semua musibah dan bencana besar yang pernah menimpa manusia  diterangkan oleh Alquran adalah selalu terkait dengan kekufuran dan keingkaran manusia itu sendiri kepada Allah swt.  Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Katakanlah: “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).
Berikut adalah di antara ayat-ayat Alquran yang berbicara mengenai bencana atau azab yang menimpa suatu kaum kaum, termasuk diri kita.
1.       Penyebab terjadi azab atau musibah adalah lantaran mendustakan ayat-ayat Allah. Padahal jika kita beriman, Allah akan membukakan pintu-pintu keberkahan baik dari langit maupun dari bumi. (Al-A’raf: 96)
2. Penyebab terjadinya bencana atau musibah adalah lantaran manusia menyekutukan Allah dengan sesuatu (baca: syirik), seperti mengatakan bahwa Allah memiliki anak.
Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar. Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh. Karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. (Maryam: 91).
3.    Allah timpakan bencana kepada kaum yang tidak mau memberikan peringatan kepada orang-orang dzalim di antara mereka. Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya. (Al-Anfal: 25).
4.     Dalam hadits juga digambarkan bahwa azab dan bencana itu bisa bersumber dari kemaksiatan yang akibatnya dirasakan secara sosial. Di antaranya adalah perbuatan zina dan riba. Dari Abdullah bin Mas’ud r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Tidaklah suatu kaum mereka melakukan dengan terang-terangan berupa riba dan zina, melainkan halal bagi Allah untuk menimpakan azabnya kepada mereka.” (HR. Ahmad).

Sesungguhnya masih banyak ayat dan hadits yang memaparkan tentang sebab-sebab terjadinya musibah atau bencana. Tapi, dari yang dipaparkan di atas kita tahu bahwa setiap musibah dan bencana selalu terkait dengan dosa yang dilakukan oleh manusia. Bentuknya bisa berupa membudayanya praktik riba dan zina. Bisa juga karena mengkufuri nikmat Allah, mendustakan ayat-ayat Allah, dan menyekutukan Allah.


Senin, 26 Oktober 2015

BENCANA ASAP INDONESIA MERUPAKAN ADZAB ALLAH SWT

BENCANA PRESPEKTIF AL-QURAN

Hari ini ketika membaca Al-Qur'an, saya tidak sadar tenyata sedang membaca surat Ad-Dukhon(surat ke-44).

Ad-Dukhon artinya kabut/asap. Bacaan surat Ad-Dukhon membuat saya terhenti sejenak ketika mengaitkan dengan fenomena asap yang beberapa bulan ini sedang melanda negeri kita Indonesia.

Berikut beberapa hal yang tiba-tiba terlintas di pikiran saya ketika membaca 'Surat Asap' pagi ini.

PERTAMA, ternyata asap adalah salah satu bentuk siksaan dari Allah SWT. Artinya, asap adalah salah satu tentara Allah SWT yang dikirim utk memberi peringatan kepada manusia, seperti halnya air bah yang dikirim untuk menenggelamkan kaum Nuh, teriakan keras yang dikirim untuk menghancurkan kaum Tsamud, badai yang pernah dikirim untuk menghancurkan kaum Ad.

فَٱرۡتَقِبۡ يَوۡمَ تَأۡتِى ٱلسَّمَآءُ بِدُخَانٍ۬ مُّبِينٍ۬ (١٠) يَغۡشَى ٱلنَّاسَ‌ۖ هَـٰذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ۬ (١١

"MAKA TUNGGULAH HARI KETIKA LANGIT MEMBAWA KABUT ASAP YANG NYATA, YANG MELIPUTI MANUSIA. INILAH AZAB YANG PEDIH." (QS Ad-Dukhon: 10-11).

KEDUA, apakah bencana asap yang ada di negara kita ini termasuk ujian untuk menguji keimanan kita, atau siksaan untuk menghukum dosa -dosa kita? Saya rasa tidak ada manfaatnya kita selalu membela diri, menganggap ini adalah ujian karena keimanan kita. Sehingga, kita merasa baik-baik saja dan tidak ada yang salah dengan diri 'kita'. Sikap merasa suci seperti ini justru akan membawa kita kepada kubangan kesalahan.

Sebaliknya, tidak ada salahnya kita menganggap bencana asap ini adalah hukuman atas dosa-dosa kita. Mungkin hukuman karena pemimpin kita yang suka berdusta, pejabat yang tidak memegang amanat, pengusaha yang serakah, dan rakyat yang telah kehilangan karakteristik amar ma'ruf nahi mungkar.

Kita semua sudah sedemikian jauh dari ajaran agama dan nilai-nilai kemanusiaan.

Tak ada salahnya kita menganggap bencana asap ini adalah hukuman Allah SWT atas kelalaian dan kemaksiatan kita, sehingga kita tergerak untuk bertaubat, introspeksi dan mawas diri.

KETIGA, ada Doa bagus yang diajarkan Allah dalam Surat Ad-Dukhon ini. Doa tersebut diletakkan pas setelah pernyataan bahwa asap itu adalah bagian dari azab Allah SWT.

Jadi doa ini, menurut pendapat saya, baik untuk dibaca banyak-banyak ketika kita ingin terbebas dari bencana asap seperti ini.

Doa itu berbunyi:

 
رَّبَّنَا ٱكۡشِفۡ عَنَّا ٱلۡعَذَابَ إِنَّا مُؤۡمِنُونَ (١٢

"YA TUHAN KAMI, HILANGKANLAH DARI KAMI AZAB INI, SESUNGGUHNYA KAMI ORANG YANG BERIMAN." (QS Ad-Dukhon: 12)


Doa ini menarik setidaknya dari beberapa sisi:

- Ia diawali dengan panggilan kepada Allah SWT dengan kata "Rabb" yang berarti Dzat yang mengatur, mengendalikan dan merancang segala sesuatu. Dalam artian sempit, Allah dengan kata Rabb ini adalah Dzat yang mengatur dan mengendalikan datang dan perginya asap.

- Kata iksyif pada mulanya berarti membuka sesuatu yang tertutup. Penggunaan kata ini tentu sangat tepat karena asap memang menutupi segala sesuatu. Menutupi pandangan, menutupi pernapasan, menutupi kebebasan bergerak, dan lain-lain. Sehingga ketika kita minta dihilangkan asap itu, kita minta agar Allah membukanya dari diri kita.

- Doa ini diikuti dengan pengakuan keimanan "sesungguhnya kami orang yang beriman". Pengakuan seperti ini penting, paling tidak, untuk 'memancing' rasa kasih sayang Allah SWT. Seakan-akan kita berkata, "Ya Allah, meskipun kami ini banyak berbuat dosa, tapi kami ini tetaplah hamba-hambamu yang beriman, kami tetap mengesakan Engkau, kami tidak menyekutukan Engkau. Maka kasihanilah kami, lenyapkan azab ini dari kami, karena sesungguhnya Engkau maha belas kasih terhadap hamba hamba-Mu yg beriman." Dan setelah mengakui keimanan dengan lisan, maka selanjutnya kita mengakuinya dengan perbuatan .

- Pada beberapa ayat setelah doa itu, Allah SWT menjawab dengan mengatakan,

 إِنَّا كَاشِفُواْ ٱلۡعَذَابِ قَلِيلاً‌ۚ

"SUNGGUH KAMI AKAN MENGHILANGKAN AZAB TERSEBUT AGAK SEDIKIT."
 (QS Ad-Dukhon : 15)

Ya, setelah doa tadi diucapkan, Allah SWT menjanjikan akan menghilangkan azab tersebut sedikit terlebih dahulu. Dihilangkan sedikit azab sedikit tersebut untuk menguji apa yang selanjutnya akan kita lakukan?!!! Kita kembali kepada Allah atau kembali kepada kemaksiatan? Jangan sampai kita mengikuti pernyataan pada bagian selanjutnya dari ayat ini, "Sungguh kamu akan kembali ingkar!".

Beberapa titik asap yang sudah berkurang di sebagian daerah jangan sampai membuat kita kembali kepada dosa-dosa. Ketika kembali ingkar,maka Allah SWT akan memberikan hukuman lain yang lebih besar seperti yang tertulis pada ayat setelahnya.

 يَوۡمَ نَبۡطِشُ ٱلۡبَطۡشَةَ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ إِنَّا مُنتَقِمُونَ (١٦

"HARI KETIKA KAMI MENGHANTAM DENGAN HANTAMAN HANG KERAS. SUNGGUH KAMI (ALLAH) MEMBALAS." (QS Ad-Dukhon : 16)

Tapi ketika kita benar-benar insaf, taubat, dan berusaha menjauhi dosa semampu kita, maka insyaAllah Allah SWT akan menghilangkan azab tersebut secara keseluruhan. Allah menjanjikan kepada kita tempat yang aman, menjanjikan pula kenikmatan surga seperti yang tersebut pada bagian-bagian akhir surat ini. Itulah nanti kemenangan yang besar!


 إِنَّ ٱلۡمُتَّقِينَ فِى مَقَامٍ أَمِينٍ۬ (٥١) فِى جَنَّـٰتٍ۬ وَعُيُونٍ۬ (٥٢)... فَضۡلاً۬ مِّن رَّبِّكَ‌ۚ ذَٲلِكَ هُوَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ

"SESUNGGUHNYA ORANG YANG BERTAKWA DALAM TEMPAT YANG AMAN. DALAM TAMAN-TAMAN DAN MATA AIR-MATA AIR.......KARUNIA DARI TUHANMU. YANG
DEMIKIAN ITULAH KEMENANGAN YANG BESAR"


Wallahu a'lam.

lihat video Indonesia kebakaran : kebakaran hutan di kanan kiri jalan